Makna Merah dan Hijau Sebagai Warna Simbolis Natal

Jika hari Idul Fitri yang dirayakan umat Muslim identik dengan warna hijau dan hari Imlek identik dengan warna merah, maka bagaimana dengan hari Natal? Jawabannya adalah warna merah dan hijau. Dua warna ini selalu kita temukan di setiap pernak-pernik Natal, bahkan sering menjadi warna dresscode untuk acara-acara Natal. Lalu apa yang membuat kedua warna ini menjadi warna khas hari Natal?

Tradisi warna merah dan hijau di hari Natal ternyata bukan hanya ada di Indonesia. Seluruh dunia mengakui bahwa warna khas Natal adalah warna merah dan hijau. Sama seperti budaya Barat mengakui warna oranye dan hitam untuk hari Halloween (Baca juga: Bolehkah Orang Kristen Merayakan Halloween?), dan warna pink untuk hari Valentine (Baca juga: Valentine? Dosa atau Tidak?).

Beberapa abad yang lalu, orang-orang menggunakan warna-warna untuk membedakan hari-hari libur. Jika kita lihat bagaimana sejarah pohon Natal maka kita akan menemukan fakta bahwa tanaman holly, adalah salah satu tanaman yang bertahan tumbuh di musim dingin. Tanaman holly memiliki buah berwarna merah dengan daun berwarna hijau. Bangsa Yunani Kuno sangat menghormati tanaman holly ini. Mereka percaya bahwa tanaman holly diciptakan untuk mempertahankan keindahan alam di tengah dinginnya musim dingin. Maka dari itu, saat mereka merayakan perayaan musim dingin mereka akan mendekorasi rumah mereka dengan tanaman holly. Bangsa Yunani Kuno berharap tanaman holly tersebut dapat melindungi mereka dan membawa keberuntungan bagi seluruh anggota keluarga di tahun yang akan datang. (Baca juga: Tradisi Natal di Dunia)

Tanaman holly yang identik dengan warna merah dan hijau pun membuat kedua warna ini menjadi warna khas musim dingin. Tradisi dua warna ini bahkan terus berlanjut hingga abad ke-14. Pada saat itu orang-orang menggunakan warna merah dan hijau pada layar salib, yang merupakan salah satu bagian dari bangunan gereja yang memisahkan antara para imam dan altar. Hal ini ternyata membawa pengaruh yang besar bagi bangsa Inggris di era Ratu Victoria.

Dr. Spike Bucklow, seorang peneliti ilmiah dari Universitas Cambridge pernah membuat spekulasi pengaruh yang terjadi pada saat itu adalah bangsa Inggris ikut menggunakan warna untuk membuat batas yang berbeda. Contohnya batas antara tahun yang lama dan tahun yang baru yang diawali dengan perayaan Natal.

Terlepas dari kepercayaan religius mereka pada saat itu, ternyata ada tokoh lain yang juga punya andil besar dalam penetapan warna merah dan hijau sebagai warna khas Natal. Tokoh tersebut adalah Haddon Sundblom. Dia adalah pria yang dibayar oleh perusahaan Coca-Cola untuk menggambar Santa Claus sebagai iklan perusahaan.

Pada saat itu, ternyata gambaran mengenai sosok Santa Claus selalu berbeda-beda dan tidak konsisten. Santa Claus selalu digambarkan sebagai pria kurus, dengan warna jubah yang bervariasi mulai dari warna biru, hijau dan merah. Haddon Sundblom membawa perubahaan besar dengan menggambar Santa Claus yang baru. Santa Claus yang gendut, berwajah riang, dan yang terpenting mengenakan jubah merah (yang kebetulan sama dengan warna khas Coca-Cola).

Perubahan yang dilakukan Haddon Sundblom mendapatkan popularitas yang tinggi pada saat itu, bahkan orang-orang menilai bahwa Santa Claus buatan Sundblom adalah yang asli. Sejak saat itu, Santa Claus yang ada dibenak orang-orang adalah Santa Claus yang berjubah merah, dengan tambahan warna hijau pohon cemara dan tanaman holly.

Dari cerita inilah dapat disimpulkan sebagai sejarah mengapa warna merah dan hijau menjadi warna simbol Natal. Berakar dari kepercayaan religius, dikembangkan secara tidak sengaja oleh perusahaan komersial, dan dilanjutkan sampai sekarang sebagai warna penuh sukacita dan kebahagiaan. Tepat seperti suasana hari Natal yang pada umumnya.

Lalu bagaimana dengan makna dari kedua warna itu sendiri?

Warna merah sendiri jika dikaitkan dengan perayaan Natal memiliki makna sebagai rasa cinta dan penderitaan yang menyimbolkan kesetiaan Yesus. Warna merah juga berarti rasa semangat yang besar, kebebasan dan keberanian. Dalam tata warna liturgi, warna merah menjadi lambang Roh Kudus yang dipenuhi dengan kekuatan dan kesetiaan. Di hari Natal sendiri, warna ini sering ditemukan di hiasan pohon Natal dan kostum Santa Claus.

Baca Juga: Warna Liturgi Rabu Abu

Lalu warna hijau menyimbolkan kehidupan abadi Yesus serta harapan seseorang atas hidup yang baru. Warna hijau juga merujuk kepada penyembuhan, pengharapan, dan pertumbuhan iman. Dalam tata liturgi, warna hijau berarti hidup yang baru, masa depan, harapan, dan keremajaan. Di hari Natal, warna ini paling sering dijumpai di pohon Natal.

Selain kedua warna di atas sebenarnya juga ada warna-warna lain yang sering muncul di hari Natal. Seperti warna putih, perak, dan emas. Tapi di antara warna-warna tersebut yang paling simbolis tetaplah warna merah dan hijau.