Mujizat Tuhan Yesus di Dalam Hidup Manusia

Berbicara tentang mujizat, pengertian yang paling umum tentang kata tersebut adalah ‘suatu kejadian yang luar biasa atau yang secara normal tidak dapat dilakukan oleh manusia sehingga secara meyakinkan hanya dapat dilakukan oleh kuasa Tuhan’. Makanya setiap kali orang mengalami hal yang luarbiasa di dalam hidup mereka, mereka menganggapnya ‘mujizat’. Tapi bagi orang Kristen, mujizat bukan hanya sekedar bagaimana kejadian luarbiasa, tepati merupakan bukti dari kuasa Allah serta hadiah bagi orang yang percaya.

Sejak zaman Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, mujizat dinyatakan ke mana pun dan dalam keadaan apapun oleh Allah kita. Baik melalui perantaraan nabi-Nya, maupun oleh Tuhan Yesus sendiri yang bisa kita baca di kitab-kitab Perjanjian Baru. Bukan menjadi sebuah rahasia lagi kalau Tuhan kita adalah Tuhan yang mampu melakukan mujizat di dalam hidup manusia.

Sayangnya, tidak semua orang bisa mengalami mujizat.

Mengapa? Apa karena mujizat Tuhan hanya terbatas untuk orang-orang tertentu? Atau karena kuasa Tuhan itu limited edition? Jadi hanya bisa terjadi dalam kurun waktu tertentu?

Jelas tidak.

Kuasa Tuhan sama sekali tidak punya batas. Demikian juga karena kasih-Nya pada manusia begitu besar maka semua orang bisa mengalami mujizat. Masalahnya adalah kita sebagai manusia seringkali meragukan dan tidak percaya akan kuasa Tuhan. Mujizat dan hati yang percaya memiliki hubungan yang sangat penting, yang tanpa keduanya, maka sangat sulit bagi kita untuk mengalami mujizat Tuhan Yesus.

Kisah-kisah yang tertulis di Alkitab berikut ini dapat menunjukkan kaitan antara kepercayaan manusia dengan mujizat Tuhan Yesus:

  • Anak Pegawai Istana Disembuhkan (Yohanes 4:46-54)
    Seorang pegawai istana berusaha bertemu Tuhan Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang hampir mati. Perlu kita ingat bahwa pada waktu itu, si pegawai istana sama sekali tidak mengenal Yesus. Mungkin dia hanya mendengar berita dari orang-orang karena Yesus pernah mengubah air menjadi anggur di Kana sebelumnya (Yohanes 2:1-12).
    Saat bertemu Tuhan Yesus, si pegawai istana pasti berpikir bahwa Yesus akan datang ke rumahnya, menemui anaknya yang sakit, berdoa, tumpang tangan, atau melakukan hal-hal lain yang bisa dia lihat. Tapi ternyata, Tuhan Yesus hanya menyuruhnya pulang karena anaknya sudah sembuh.
    Lalu apa yang dilakukan si pegawai istana? Dia tidak meragukan Tuhan Yesus dan percaya. Makanya dia pulang dan apa yang terjadi pada anaknya? Anaknya sembuh. Pegawai istana mengalami mujizat Tuhan karena dia percaya dengan perkataan Tuhan Yesus.
  • Yesus Berjalan di Atas Air (Matius 14:22-33)
    Simon Petrus juga pernah mengalami mujizat dengan berjalan di atas air bersama Tuhan Yesus. Sayangnya pada saat itu, iman yang lemah membuat Petrus meragukan kuasa Tuhan dan akhirnya dia hampir tenggelam. Mujizat yang dialami Petrus tidak sepenuhnya terjadi karena hatinya bimbang. Tuhan Yesus sendiri langsung menegurnya dan menyebut Petrus sebagai ‘orang yang kurang percaya’ (ayat 31).

Dua kisah di atas sudah cukup membuktikan bahwa untuk mengalami mujizat Tuhan Yesus hal yang harus kita miliki hanyalah hati yang percaya. Percaya bahwa Tuhan Yesus berkuasa. Percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup melakukan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Serta percaya bahwa Tuhan Yesuslah satu-satunya sumber mujizat di dalam kehidupan kita. Kita harus menjadi seperti pegawai istana, yang memberikan kepercayaannya seratus persen kepada Tuhan. Walaupun mungkin saat itu rasanya mustahil jika Tuhan bisa menyembuhkan anaknya tanpa datang dan bertemu langsung. Tapi karena pegawai istana sepenuh hati percaya, dia mengalami mujizat. Demikian juga di dalam kehidupan kita. Bagi yang sakit selalu ada caranya Tuhan dalam menyembuhkan, karena kesembuhan itu sendiri telah dijanjikan oleh Allah.

Jangan seperti Simon Petrus, yang setengah hati dan akhirnya bimbang. Padahal setiap hari dia mengikut Yesus dan menyaksikan sendiri bagaimana Yesus melakukan mujizat. Kita pun sebagai pengikut Tuhan pasti setiap Minggu datang ke gereja dan mendengar tentang kuasa Tuhan Yesus. Lalu apakah di saat badai kehidupan menerpa kita bisa percaya dan mengandalkan-Nya? Jika tidak, maka kita sudah sama seperti Simon Petrus. Tapi jika iya, maka kita bisa seperti pegawai istana dan tinggal menunggu bagaimana mujizat Tuhan Yesus bekerja dalam kehidupan kita. Tetap pegang teguh kepercayaan bahwa Allah kita sangat berkuasa. Juga perbanyaklah waktu untuk membaca ayat-ayat Alkitab yang dapat menguatkan iman dan keyakinan kita kepada Tuhan.