Sponsors Link

Bolehkah Orang Kristen Merayakan Imlek? Apakah Dosa atau Tidak?

Sponsors Link

Indonesia adalah negara yang penuh dengan keberagaman. Indonesia memiliki beragam agama, beragam suku, dan beragam kebudayaan. Salah satu suku yang cukup menyebar di Indonesia adalah suku Tionghoa. Suku Tionghoa pun ikut membawa beberapa kebudayaannya ke Indonesia, termasuk dalam merayakan hari raya. Seperti ada banyaknya hari besar agama Kristen, ada begitu banyak hari raya yang diperingati oleh suku Tionghoa. Namun, di Indonesia, hari raya suku Tionghoa yang paling terkenal dan ikut disemarakkan adalah hari raya tahun baru Imlek.

Banyak orang berpikir bahwa Imlek merupakan hari raya agama Budha atau Kong Hu Chu. Ada pula yang berpikir Imlek merupakan hari raya agama Kristen karena cukup banyak di Indonesia orang Kristen yang bersuku Tionghoa. Padahal Kristen dan Budha sebagai agama mayoritas suku Tionghoa tentu berbeda dimulai dari adanya perbedaan biksu dan pendeta. Imlek nyatanya tidak bersangkutan dengan agama apapun. Imlek murni merupakan budaya suku Tionghoa. Sebelum zaman berkembang, Imlek dirayakan oleh para petani di Cina untuk menyambut musim semi. Pada pergantian dari musim dingin ke musim semi, seekor binatang raksasa bernama Nian akan muncul dari dasar laut dan memakan hasil panen, ternak, juga penduduk desa. Oleh karena itu, penduduk meletakkan makanan di depan pintu rumah agar Nian memakan makanan tersebut dan bukannya memakan orang seisi rumah.

Bolehkah Orang Kristen Merayakan Imlek?

Legenda menceritakan tradisi Imlek dimulai ketika penduduk mengetahui cara membuat Nian ketakutan. Penduduk melihat Nian lari ketika melihat seorang anak yang memakai baju merah. Akhirnya, setiap tahun baru, penduduk menggantungkan lampion dan gulungan kertas merah di jendela dan juga pintu. Selain warna merah, penduduk juga tahu bahwa Nian takut dengan bunyi-bunyian yang keras. Oleh karena itu, penduduk mulai memukul beduk, gong, dan membuat suara ledakan dengan membakar bambu. Seiring berkembangnya zaman, suara-suara keras ini digantikan dengan menyalakan petasan dan juga kembang api.

Kisah di balik perayaan Imlek ini seakan-akan mengandalkan benda-benda untuk mengusir kuasa jahat. Tentu hal ini tidak sesuai dengan cara mengusir setan dalam agama Kristen. Hal ini membuat beberapa orang Kristen yang bersuku Tionghoa ragu dan bertanya-tanya bolehkah orang Kristen merayakan Imlek. Berikut beberapa penjelasan tentang orang Kristen merayakan Imlek.

  • Orang Kristen merayakan Imlek tanpa memaknainya secara mitologis

Kita telah mengetahui kisah yang memberikan latar belakang perayaan Imlek. Kisah tersebut sebenarnya sangat mitologis. Tentu hal ini tidak sesuai dengan apa yang kita percayai dalam iman Kristen. Kita percaya bahwa hanya Tuhan yang mampu memberi dan mengambil berkat yang kita miliki kapanpun baik itu saat musim semi atau musim lainnya. Kita juga percaya dalam cara mengusir setan menurut iman Kristen bahwa kuasa jahat seperti Iblis tidak dapat kita usir dengan benda-benda mati seperti warna merah dan suara keras.

Kita hanya percaya bahwa Allah saja yang sungguh Maha Kuasa untuk mengusir segala kuasa jahat yang ingin menghantui kita. Kita percaya Allah begitu mengasihi kita sehingga tidak akan membiarkan kita direbut begitu saja oleh kuasa jahat. Hanya Allah yang berkuasa penuh atas hidup kita. Itulah iman Kristen. Iman Kristen yang kita miliki sangat tidak sesuai dengan kisah latar belakang perayaan Imlek. Namun, kita pun harus menghargai budaya yang sudah dirayakan secara turun-temurun.

Hanya saja, kita harus memiliki perspektif yang berbeda dalam merayakannya, tidak lagi sama dengan perayaan dahulu kala. Kita tidak lagi merayakannya karena ingin mengusir Nian, tetapi kita merayakannya karena kita rindu berkumpul bersama keluarga besar kita. Kita rindu memiliki hari yang baru dan membentuk komitmen baru menjadi pribadi yang lebih baik di tahun baru. Kita harus memandang hari Imlek sebagai hari baru yang akan Tuhan berkati dengan luar biasa, bukan karena ketakutan akan datangnya Nian yang dapat memakan kita.

  • Orang Kristen merayakan Imlek dengan menerapkan prinsip-prinsip kekristenan

Matius 15:3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?

Yesus memang mengajarkan kita untuk terus berpegang pada perintah Allah. Namun, Yesus juga mengajarkan kita untuk menghargai adat istiadat. Hal ini ditunjukkan dengan bagaimana Yesus dikubur berdasarkan adat cara penguburan.  Masih banyak ayat Alkitab tentang adat istiadat yang menunjukkan kita harus menghargai adat istiadat. Namun, Yesus menginginkan kita untuk tidak melanggar perintah Allah demi adat istiadat. Artinya, boleh saja kita melakukan adat istiadat, boleh saja orang Kristen merayakan Imlek, tetapi harus menerapkan prinsip kekristenan.

Dalam merayakan Imlek, kita harus menyesuaikannya dengan perintah Allah. Imlek sebenarnya pun dapat menjadi ajang yang baik untuk melakukan perintah Allah. Misalnya, dalam Imlek kita melakukan tradisi berkumpul bersama keluarga. Ini menjadi ajang untuk kita menerapkan hukum kasih dalam keluarga kita. Kita kembali berinteraksi dengan keluarga dan menyebarkan sukacita. Kita saling mendorong dan saling menguatkan sebagai sebuah persekutuan. Dalam Imlek pun kita juga biasa melakukan tradisi angpao. Ini pun menjadi ajang untuk kita membagikan berkat dengan penuh sukacita.

  • Orang Kristen merayakan Imlek tanpa melakukan penyembahan lain

Sayangnya, masih ada orang Kristen merayakan Imlek dengan tetap melakukan penyembahan lain. Hal ini tentu sangat disayangkan karena kita jadi melanggar perintah Allah. Melakukan penyembahan lain selain kepada Allah berarti kita menduakan Allah, kita pun telah melanggar Hukum Taurat. Oleh karena itu, dalam merayakan Imlek, orang Kristen tidak lagi boleh melakukan ritual sembahyang. Dibandingkan sembahyang, orang Kristen bersama keluarga dapat berdoa bersama-sama sesuai cara berdoa Kristen. Kita pun tidak lagi melakukan tradisi memelihara meja abu leluhur saat Imlek.

Itulah beberapa penjelasan tentang orang Kristen merayakan Imlek. Memang ada berbagai sikap orang Kristen terhadap kebudayaan. Namun, kita harus terus bijaksana dalam menentukan sikap kita. Seperti dalam Imlek ini, kita boleh saja merayakan Imlek dengan menerapkan nilai-nilai Kristiani. Berpeganglah teguh pada  ketetapan firman Allah. Jangan goyah hanya karena adat istiadat karena Tuhan sendiri yang akan menegur kita. Segala kemuliaan bagi nama Tuhan. Tuhan memberkati.

Sponsors Link
, , ,
Oleh :
Kategori : Perayaan Kristen