Sponsors Link

6 Tata Liturgi Tahbisan Imamat Secara Urutan yang Paling Benar

Sponsors Link

Setiap minggu kita pergi beribadah. Kita melaksanakan cara beribadah agama Katolik dengan baik dan penuh dengan sukacita. Tentu semua kenyamanan yang kita terima tidak terlepas dari para pelayan gereja. Para pelayan gereja ini tidak bekerja secara sembarangan. Mereka benar-benar dipilih oleh Allah untuk melayani. Mereka juga telah mempersiapkan diri bahkan berkomitmen di depan Allah. Komitmen para pelayan diambil melalui pelaksanaan liturgi tahbisan. Katolik mengenal tiga liturgi tahbisan yang dilakukan secara bertahap sesuai bentuk-bentuk pelayanan di gereja. Liturgi tahbisan yang pertama adalah liturgi tahbisan diakonat, lalu liturgi tahbisan imamat atau presbiterat, dan yang terakhir liturgi tahbisan uskup atau episkopat. Tidak semua penerima tahbisan menerima ketiga tahap ini. Tahbisan yang paling umum dilakukan adalah tahbisan diakonat dan tahbisan imamat.

ads

Tahbisan imamat merupakan liturgi saat seorang pria resmi menjadi imam Kristus di suatu keuskupan. Di sinilah titik pria tersebut menerima jabatan baru dan berkomitmen untuk terus melayani Tuhan. Lumen Gentium 28 menyatakan bahwa setelah menjadi imam, ia akan bertugas untuk menyebarkan Injil, menjadi gembala bagi jemaat, dan merayakan ibadat ilahi. Mereka akan membantu melaksanakan tri tugas gereja.Tata liturgi ketiga tahbisan, termasuk tata liturgi tahbisan imamat, tertulis di dalam buku “De Ordinatione Episcopi, Presbyterium, et Diaconorum”. Tata liturgi yang tertulis dalam buku ini disesuaikan dengan Kitab Hukum Kanonik. Secara garis besar, berikut tata liturgi tahbisan imamat.

  • Liturgi tahbisan imamat dilaksanakan di dalam Misa

Tata liturgi tahbisan imamat selalu dilaksanakan di dalam Misa. Tahbisan ini dilakukan di antara pelaksanaan Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Tahbisan imamat dilakukan oleh Uskup yang bertugas sebelum menerima makna sakramen ekaristi.

  • Orang yang ditahbiskan akan menerima pengurapan tangan

Calon imam baru akan menerima pengurapan tangan dengan minyak. Pada ritus baru, minyak ini berupa krisma suci sedangkan pada ritus lama berupa minyak katekumen. Tangan menjadi pilihan untuk diurapi karena tangan para calon imam yang butuh untuk dikuduskan. Melalui tangannya, Kristus akan hadir dan diberikan kepada jemaat. Pengurapan tangan dimulai dengan pemakaian stola imam dan kasula pada calon imam. Keduanya merupakan busana bagi imam untuk Misa. Calon imam akan berlutut dan menadahkan kedua tangannya di pangkuan uskup yang akan menahbiskan. Uskup ini sendiri duduk di katedra di depan altar. Uskup akan mengambil minyak dengan ibu jari dan mengurapi kedua tangan imam tersebut.

Dalam pengurapannya, uskup akan berkata “Semoga Tuhan Yesus Kristus, yang telah diurapi Bapa dengan Roh Kudus dan kekuatan, menjaga engkau dan menguduskan umat Kristiani dan mempersembahkan kurban kepada Allah.” Kata-kata ini diambil dari De Ordinatione 133. Pengurapan biasa dilakukan dimulai dari ujung ibu jari kanan, telunjuk kiri, ibu jari kiri, dan terakhir telunjuk kanan. Pola ini membentuk tanda salib di tangan. Ibu jari dan telunjuk diurapi secara khusus karena kedua jari ini akan memegang Tubuh Kristus saat Misa. Baru setelah itu, seluruh telapak tangan akan diurapi. Setelahnya, baik uskup maupun imam baru dapat mencuci tangan mereka.

  • Orang yang ditahbiskan akan menerima tumpangan tangan dan doa tahbisan

Uskup akan memberikan penumpangan tangan pada kepala orang yang menerima tahbisan imamat. Saat penumpangan tangan, uskup yang bertugas akan mengucapkan doa tahbisan. Doa tahbisan ini merupakan doa permohonan dengan cara berdoa dalam Roh agar Tuhan mencurahkan Roh Kudus bagi orang yang ditahbiskan. Uskup juga memohon agar Tuhan memberkati orang tersebut dengan segala anugerah khususnya untuk pelayanan imamat.

  • Tahbisan umumnya ditutup dengan Baku Salam

Tata liturgi tahbisan imamat umumnya ditutup dengan melakukan Baku Salam. Baku Salam sendiri biasanya disesuaikan dengan gereja masing-masing. Awalnya, Baku Salam ini dilakukan dengan baku cium antara uskup yang telah menahbiskan dengan orang yang telah ditahbiskan. Beberapa gereja melakukan salam damai sebagai bentuk Baku Salam. Imam akan mengawali dengan Doa Damai dan menyatakan “Damai Tuhan bersamamu”. Setelahnya, jemaat diundang untuk saling bersalaman dengan memberikan salam damai ini.

  • Selain salam damai, imam baru juga menerima salam penerimaan
Sponsors Link

Selain salam damai, imam yang baru ditahbiskan juga menerima salam dari uskup yang menahbiskan dan juga para imam lainnya. Salam ini dilakukan sebagai bentuk dukungan bahwa imam baru ini telah diterima dalam Dewan Para Imam. Hal yang perlu diingat bahwa salam ini merupakan salam penerimaan, bukan berupa ucapan selamat.

  • Pemberian selamat tidak dilakukan saat Misa

Ketika seseorang menerima status baru, kita cenderung ingin memberikan ucapan selamat. Namun, agar makna tahbisan tidak terganggu, pemberian selamat tidak dapat diberikan di dalam rangkaian Misa. Kita dapat memberikan ucapan selamat setelah rangkaian Misa telah selesai. Itulah tata liturgi tahbisan imamat. Mungkin ada beberapa keuskupan yang memberikan perubahan-perubahan tertentu. Hal yang terpenting adalah unsur-unsur liturgi tahbisan yang utama tidak dihilangkan. Makna dari tahbisan pun tidak berkurang.

Hal penting lainnya yang perlu diingat adalah bagaimana komitmen dan persiapan calon imam yang akan ditahbiskan ketika mendapatkan jabatan baru. Ia perlu terus mengingat bahwa jabatan tersebut bukanlah sebuah pekerjaan, tetapi tanggung jawab di depan Allah yang kudus. Lalu, apa yang dapat kita lakukan sebagai jemaat? Kita harus terus mendukung dan mendoakan calon imam baru ini. Ketika ia sudah menyerahkan hidupnya untuk dipakai Allah, kita harus mendukungnya. Mari terus mendoakan setiap pelayan di gereja karena merekalah hamba-hamba Allah. Kiranya segala kemuliaan bagi nama Allah. Tuhan memberkati.

Sponsors Link
, , ,




Oleh :
Kategori : Sakramen