3 Cara Pacaran Menurut Iman Kristen : Miliki Kasih Kristus

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menemui adanya masalah atau tantangan baik yang mudah maupun sulit. Sebagai makhluk sosial, kita pasti membutuhkan bantuan orang lain dalam melewati berbagai tantangan dalam hidup kita. Selain dalam bentuk fisik (uang, makanan, barang, dll.), dukungan yang juga sangat kita perlukan adalah kasih.

Kasih sayang dapat diberikan melalui pemberian barang secara fisik itu sendiri. Namun, dukungan kasih dalam bentuk kata-kata penghiburan, tenaga yang dicurahkan untuk kita, perhatian, pelukan, dsb. juga tidak kalah pentingnya bagi kita. Bahkan seringkali kita merasa bahwa yang kita perlukan hanyalah penghiburan dari orang lain untuk membantu meringankan beban pikiran sehingga masalah yang berat dapat terasa lebih ringan.

Kebutuhan akan kasih sayang inilah yang kemudian menjadi salah satu pendorong bagi orang-orang untuk menjalin hubungan kasih dengan orang lain. Dalam Alkitab, hubungan yang dikenal dengan istilah pacaran ini tidak disebutkan secara eksplisit, namun kita dapat menemui beberapa ayat Alkitab tentang pernikahan.

Karena pernikahan itu sendiri merupakan inisiatif dari Tuhan, tentunya kita tidak dapat secara sembarangan mencari jodoh dan menjalani hubungan. Oleh karena itulah, dalam Kristen pacaran merupakan proses penting menuju jenjang pernikahan hingga akhirnya sepasang laki-laki dan perempuan dapat bersama memenuhi tujuan pernikahan Kristen.

Sebagai tahap awal menuju kehidupan pernikahan yang diberkati Tuhan, pacaran juga hendaknya dilakukan bukan menurut cara dunia, namun sesuai dengan firman Tuhan. Nah, berikut adalah tiga cara pacaran menurut iman Kristen yang sesuai dengan firman Tuhan.

  • Menjalin hubungan erat dengan Bapa di surga sebagai sosok bapa yang sejati

Tuhan Yesus dalam masa pelayanan-Nya di dunia ini selalu memanggil Tuhan dengan sebutan ‘Bapa’ (kecuali satu kali saat Ia disalib dan memanggil Bapa dengan sebutan ‘Tuhan’). Doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri pun juga mengajarkan kita untuk berdoa kepada Bapa. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran Tuhan sebagai Bapa dalam kehidupan kita.

Peran Bapa dalam Allah Tritunggal pun tidak lepas dari cara kita menjalin relasi dengan orang lain termasuk dengan pacar. Yohanes 3:16 mengatakan bahwa begitu besarnya kasih Bapa untuk kita sehingga Ia rela mengorbankan Yesus, Anak yang dikasihi-Nya untuk menderita dan mati bagi kita. Yesus sendiri pun mengajarkan kita untuk mengasihi orang lain karena Ia telah terlebih dahulu mengasihi kita.

Dengan kata lain, kasih yang kita terima dari Yesus memperbesar kapasitas hati kita dan memampukan untuk dapat mengasihi orang lain dengan tulus. Kasih itu sendiri memang merupakan karakter Kristus, maka jika kita ingin menjalin hubungan yang penuh kasih, alangkah baiknya jika kita memintanya pada Yesus, sumber kasih yang sejati.

  • Menjalin komunikasi dengan keluarga

Dalam artikel Pacaran Beda Agama Menurut Kristen kita telah membahas mengenai larangan mencari jodoh yang berbeda agama. Salah satu alasan yang mendasari alasan tersebut adalah pentingnya membangun keluarga sesuai ajaran firman Tuhan. Dari Ulangan 6:5-7 dan Titus 2:1-10 dapat kita pahami pentingnya mengajarkan kasih dan firman Tuhan dalam keluarga Kristen. Berkat ajaran kasih dan firman tersebut, keluarga tersebut akan tumbuh menjadi keluarga yang memiliki damai sejahtera dan membentuk karakter yang baik pada anak-anak.

Dalam zaman modern ini kita mengenal istilah backstreet atau pacaran sembunyi-sembunyi tanpa memberitahu orang tua. Pacaran dengan cara demikian tidak disarankan dalam iman Kristen. Tuhan tidak menghendaki kita untuk melawan orang tua yang memiliki otoritas atas kita, termasuk dalam hal memilih jodoh.


Sebaliknya, Tuhan memberi perintah agar kita menghormati orang tua dan sebagai balasannya kita akan diberi hidup bahagia dan umur panjang (Ef. 6:1-3). Karena itulah, hendaknya kita mengenalkan pacar atau pasangan kita kepada orang tua.

Menceritakan masalah pacar kepada orang tua mungkin terdengar memalukan, namun hal ini sebenarnya juga baik untuk dilakukan. Kita mungkin seringkali tidak menyadarinya, tetapi kedekatan kita dengan keluarga dan kasih yang kita rasakan dari mereka memupuk rasa percaya diri dan kasih kita. Jika kita menyembunyikan masalah pacaran dari orang tua, bukan hanya hubungan dengan orang tua yang akan menjadi renggang, namun damai sejahtera kita pun akan terganggu karena kita merasa harus menyembunyikan sesuatu dari mereka.

  • Miliki mindset bahwa kita sudah utuh dalam Kristus

Pembahasan dalam kedua poin di atas menuntun kita untuk memiliki mindset bahwa kita utuh dalam Kristus. Dalam dunia ini seringkali kita temui alasan bahwa orang berpacaran untuk melengkapi satu sama lain. Hal ini memang benar karena sebagai manusia kita pasti memiliki kelemahan sehingga kelebihan yang seorang dapat menopang kekurangan pihak lainnya. Sayangnya, argumen tersebut terkadang tanpa disadari menyebabkan orang memiliki pemikiran bahwa mereka belum utuh jika belum memiliki pasangan.


Pemikiran bahwa kita belum utuh dapat disebabkan oleh kurangnya kasih dari orang sekitar, termasuk keluarga. Mungkin kenyataannya adalah keluarga seseorang sangat menyayanginya, namun karena orang tersebut tidak menjalin hubungan yang erat dengan keluarganya, ia tidak merasakan kasih sayang itu. Akibatnya, ia dapat memiliki kecenderungan untuk mencari kasih dan penerimaan dari orang lain walaupun belum terlalu mengenal orang tersebut.

Pacar yang dapat mendukung dan menumbuhkan kepercayaan diri kita memang baik, namun kita tidak boleh menjadikannya satu-satunya sumber kasih dan kepercayaan diri kita. Bagaimanapun juga kita harus kembali mengutamakan Tuhan Yesus, Bapa yang sejati dalam hidup kita, karena dari Bapa-lah kita mendapat kepenuhan atau keutuhan diri (Kol. 3:10a). Pada akhirnya, kesadaran akan keutuhan diri ini pula yang dapat memimpin kita untuk menjalani masa pacaran yang kudus dan berkenan pada Tuhan.

Demikianlah pembahasan mengenai cara pacaran menurut iman Kristen. Hal yang harus selalu kita ingat adalah bahwa kita harus mengutamakan hubungan kita dengan Tuhan Yesus karena dari situlah kita mendapatkan hikmat, kasih, dan keutuhan diri dalam menjalani setiap aspek dalam hidup kita, termasuk dalam menjalani masa pacaran.

Baca juga: Pandangan Kristen Terhadap Hari Valentine