3 Makna Kamis Putih Bagi Umat Katolik dan Kristen

Kamis Putih adalah salah bagian dari Trihari Suci atau makna masa prapaskah selain dari Jumat Agung dan makna Sabtu Suci. Puncak dari Trihari Suci adalah Paskah yang merupakan hari kebangkitan Juruselamat yang menggenapi nubuat para nabi terdahulu. Peristiwa makna Kamis Putih adalah saat di mana Yesus membasuh kaki muridnya, melakukan perjamuan terakhir, dan akhirnya tertangkap di Taman Getsemani. Paskah merupakan salah satu dari hari besar Agama Kristen.

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari Kamis Putih ini. Kita bisa belajar tentang pelayanan, kerendahan hati, kebersamaan, dan kesederhanaan. Selain itu, kita bisa mempelajari bahwa Yesus dalam bentuk manusia bisa sedih. Dalam Kamis Putih, kita juga tahu bahwa Yudas Iskariot mengkhianati Yesus. Peristiwa-peristiwa yang terjadi selama makna Kamis Putih, antara lain adalah:

  1. Perjamuan Kudus
  2. Peristiwa Pembasuhan
  3. Yesus berdoa di Taman Getsemani kepada Bapa
  4. Yudas Iskariot mengkhianati Yesus
  5. Petrus memotong kuping seorang prajurit dan Yesus menyembuhkan kupingnya.

Asal Mula Terjadinya Kamis Putih

Saat Perjamuan Kudus tersebut, Yesus memotong tubuh-Nya dan mengambil darah-Nya. Tubuh-Nya tersebut dipotong-potong dan menjadi roti. Darahnya tersebut dijadikannya sebagai anggur. Inilah yang disebut dengan Trans-substansiasi. Banyak yang mengira kalau apa yang diberikan oleh Yesus bukanlah tubuh dan darah-Nya, melainkan itu hanya metafora saja. Ada juga yang mengira bahwa itu adalah praktek kanibalisme. Namun, tentang metafora dan kanibalisme itu bukanlah hal yang kurang tepat karena Yesus benar-benar memberikan daging dan darah-Nya untuk dimakan dan diminum. Daging itu berubah menjadi roti dan darah tersebut berubah menjadi anggur. Hal inilah mukjizat dari Tuhan Yesus. Seperti yang tertulis dalam Yohanes 6:51 “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Hal ini semakin ditegaskan dalam Yohanes 6:55 : “Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.”

Memakan tubuh Kristus  itu merupakan simbol bahwa kita sudah menjadi satu dengan Kristus. “Satu” yang dimaksud adalah kita sudah bersatu kepada Kristus. Meminum darahnya merupakan simbol bahwa janji penebusan dosa akan segera tergenapi. Seperti yang kita ketahui, zaman dulu, perjanjian disahkan bukan melalui tanda tangan atau stempel, melainkan menggunakan darah. Yesus juga membasuh kaki para murid-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin itu haruslah melayani bukan dilayani, seperti yang tertuang di dalam Yohanes 13:14–17 “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu.  Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.”

Inti Makna dari Kamis Putih

Yesus mengajarkan bahwa seorang pemimpin bukanlah pihak yang dilayani, melainkan pihak yang melayani. Dewasa ini, kita sering melihat pemimpin yang maunya dilayani saja, tetapi dia tidak pernah melayani. Ada juga pemimpin yang ingin mendapatkan pelayanan yang eksklusif, tetapi tidak pernah memberi pelayanan yang eksklusif kepada rakyat-Nya.

Mari kita bahas semua kejadian yang terjadi saat makna Kamis Putih supaya kita tahu apa saja yang bisa kita pelajari dalam Kamis Putih. Pada peristiwa ini, kita bisa mempelajari banyak hal dari Yesus Kristus dengan segala kesederhanaan dan kerendahan hati-Nya.

1. Belajar Pelayanan dan Kerendahan Hati


Perjamuan Kudus atau Perjamuan Terakhir adalah peristiwa paling terkenal di dunia. Momen ini juga dilukis oleh Leonardo da Vinci, seniman termahsyur di dunia melalui lukisan “The Last Supper”. Lukisan aslinya sekarang disimpan di Gereja Santa Maria, Milan, Italia. Saat itu, orang-orang Yahudi sedang memasuki masa Paskah. Paskah bagi Yahudi itu untuk memperingati kebebasan Bangsa Israel dari Perbudakan Bangsa Mesir. Kini, setelah Yesus bangkit dari hari kematiannya; pada hari ketiga,  Paskah diperingati sebagai kebebasan manusia dari dosa. Orang Yahudi memperingati Hari Raya Paskah dengan makan roti tidak beragi. Oleh sebab itu, hari ini juga disebut sebagai Hari Raya Roti tidak Beragi.

Sebelum melakukan perjamuan, Yesus sudah menunjukkan ekspresi sedih.  Yesus sudah sering memperingatkan murid-Nya bahwa dia sendiri akan menjadi martir penebusan dosa. Hal ini kembali diucapkannya kembali. Perkataan Yesus tertuang di dalam Matius 26:18 “Jawab Yesus: “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Yesus jelas mengatakan bahwa waktunya hampir tiba. Hal ini tentu menunjukkan bahwa waktunya untuk menggenapi nubuat para nabi sudah dekat. Saat makan malam, Yesus sudah memperingati murid-muridnya bahwa satu dari 12 murid-Nya akan mengkhianati-Nya. Tentu saja, murid-murid bertanya-tanya siapa orang yang dimaksud oleh Gurunya tersebut. Namun, ada satu orang yang menyadari bahwa dialah yang akan menyerahkan Yesus kepada orang Farisi dan faksi lain yang membenci Yesus, yaitu Yudas Iskariot. Yesus juga menyebutkan bahwa Petrus akan menyangkal Yesus sebanyak 3 kali sebelum ayam berkokok.

2. Berdoa dan Kasihilah Musuhmu

Yesus dalam tubuh manusia begitu sedih dan takut karena Dia akan menggenapi nubuatan para nabi. Mungkin, hal ini terasa aneh bagi mereka yang tidak mengimani Yesus Kristus. Namun, hal tersebut tidaklah aneh karena Yesus sendiri adalah Tuhan yang memanifestasikan diri-Nya menjadi manusia. Yesus adalah Manusia dan Tuhan. Dia juga memiliki sifat seperti manusia, seperti marah, sedih, dan takut. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya di surga dengan begitu khusyu. Dia berkomunikasi dengan Bapa-nya tentang laporan bahwa Dia sudah siap untuk menggenapi janji penebusan dosa. Yesus sendiri ditemani oleh Petrus dan dua orang anak Zebedeus, Yakobus dan Yohanes. Namun, ketiga orang itu justru tidur saat Yesus meminta mereka untuk berjaga. Oleh sebab itu, Yesus menasehati mereka untuk berjaga-jaga sebab roh itu menurut, tetapi daging lemah. Nasehat dari Kristus itu menunjukkan kepada kita untuk tetap menahan nafsu duniawi. Kita harus berjaga-jaga dan mengontrol nafsu duniawi supaya tidak terjebak di dalam dosa.

Kisah di Taman Getsemani ini juga mengajarkan kepada kita untuk tetap setia berdoa kepada Allah Bapa. Berdoa adalah komunikasi dengan Tuhan. Kita harus tetap menjaga komunikasi dengan Allah supaya perjalanan kita di dunia itu terberkati oleh Tuhan. Untuk kamu yang jarang berdoa, mulailah membiasakan diri untuk berdoa kembali karena doa itu penting. Ingatlah Ora et Labora. Petrus adalah hamba yang setia. Hal ini tentu ditunjukkan ketika dia melakukan perlawanan terjadap prajurit yang ingin menangkap Yesus. Petrus memotong kupin salah satu prajurit. Nama prajurit tersebut adalah Malkhus. Namun, Yesus justru marah dengan perbuatan Petrus dan memilih untuk menyembuhkan kuping Malkhus. Yesus memberikan teladan kepada kita bahwa kekerasan tidak boleh dilawan dengan kekerasan. Dia adalah sosok yang anti-kekerasan dan memilih jalan damai. Yesus Kristus memilih jalan salib daripada kekerasan karena dia sadar bahwa takdir-Nya sudah ditentukan sejak lama.

3. Nafsu Duniawi akan Membawamu kepada Maut

Yudas Iskariot adalah murid Yesus yang akan menyerahkan Yesus untuk dihukum salib. Yesus sudah memberikan “kode” kepada para murid-Nya bahwa salah satu di antara 12 Rasul akan mengkhianati-Nya. Lalu, kenapa Yudas justru menjual Yesus? Apakah Yesus menjual Yesus demi harta? Yudas menjual Yesus kepada para Imam dengan harga hanya 30 keping perak yang bila kita ubah ke dollar itu adalah sekitar 19 dollar Amerika. Bila kita konversikan ke rupiah dengan 1 rupiah adalah 13.000, itu setara dengan Rp 247.000. Tentu hal ini itu sangat murah. Jadi, Yudas bukan ingin menjual Yesus dengan harapan uang, tetapi harapan lain. Seperti orang Yahudi saat itu, Yudas ingin menjadikan Yesus sebagai pemimpin revolusi orang Yahudi untuk melakukan pemberontakan terhadap Kekaisaran Romawi. Hal ini pernah dilakukan oleh Judas Makabe yang melakukan pemberontakan melawan Kekaisaran Seleukid dan akhirnya mendirikan Dinasti Hasmonea. Sayangnya, kerajaan tersebut tidak bertahan lama.

Yudas Iskariot berharap Yesus mau memimpin pemberontakan melawan Roma. Sayangnya, Yesus mengajarkan murid-Nya untuk taat kepada Kaisar. Jadi, Yesus sendiri tidak memiliki minat untuk menjadi pemimpin di dunia karena dia sudah menjadi Pemimpin di surga. Oleh sebab itu, Yudas menjual Yesus kepada para Imam dengan harapan akan terjadi revolusi di Kota Yerusalem ketika Yesus diadili oleh Pilatus. Namun, harapan tersebut tidak terkabulkan karena Yesus sendiri memilih jalan salib. Tentu hal ini mengecewakan Yudas Iskariot. Dia pun mengembalikan uang tersebut kepada para Imam. Yudas pun memilih mengakhiri hidupnya karena rencananya yang gagal dan rasa malu yang sangat mendalam. Apa yang dilakukan oleh Yudas mengajarkan kita satu hal. Nafsu duniawi tidak bisa menggagalkan penggenapan Firman Allah. Saat berdoa, kita sering ingin doa kita terkabulkan oleh Allah dan ketika tidak terkabul maka kita akan kecewa kepada Allah. Padahal, Allah memiliki rencana yang lebih indah dari itu.

Dari beberapa kisah itu, kita bisa mempelajari banyak hal. Kita bisa belajar dari Yesus bahwa Yesus adalah sosok yang rendah hati dan melayani seperti yang tergambar dalam Kisah Perjamuan Terakhir dan Taman Getsemani. Kita juga harus belajar dari apa yang terjadi pada Yudas yang karena nafsunya ingin menjadikan Yesus sebagai pemimpin politik justru berakhir kepada maut. Yesus juga mengajarkan kita untuk melawan kekerasan dengan kebaikan. Hal ini kemudian ditiru oleh Mahatma Gandhi yang berhasil memerdekakan India dari Inggris.