5 Simbol Pengurapan Orang Sakit dan Maknanya

Sakramen pengurapan orang sakit atau makna sakramen minyak suci merupakan salah satu dari tujuh sakramen yang terdapat dalam agama Katolik. Pada mulanya, sakramen ini ditujukan bagi mereka yang sedang sekarat atau mendekati ajal. Dengan fungsinya tersebut, banyak orang yang malah takut melakukan sakramen pengurapan orang sakit karena beranggapan sakramen ini  dapat mempercepat kematian.

Alhasil, semakin hari sakramen ini semakin jarang digunakan. Oleh karena itulah, dalam perkembangannya terjadi perubahan fungsi pada sakramen pengurapan orang sakit. Sejak Konsili Vatikan II, sakramen ini tidak hanya ditujukan bagi mereka yang sakit parah, tetapi juga bagi mereka yang lemah supaya diberikan kekuatan secara jasmani maupun rohani. Selain itu, sakramen ini juga dapat dilakukan berkali-kali, berbeda dengan mulanya yang hanya dapat dilakukan satu kali.

Pelaksanaan sakramen pengurapan orang sakit dilakukan oleh seorang imam dan dihadiri oleh komunitas jemaat. Imam menumpangkan tangannya pada dahi si sakit sambil berdoa supaya Allah berkenan mengampuni jenis-jenis dosa dalam Alkitab, menganugerahkan keselamatan, dan berkenan menambahkan hati si sakit. Setelah itu, Imam mengusap tangan dan dahi si sakit dengan minyak khusus yang telah diberkati, yaitu minyak Oleum Infirmorum.

Kalau kita memperhatikan, umat hierarki gereja Katolik sering sekali menggunakan lambang dan simbol dalam ritual-ritual, termasuk dalam sakramen. Bukan karena mereka menyembah benda yang dijadikan lambang tersebut, melainkan mereka ingin lebih mendalami dan merasakan kehadiran Allah yang tak terlihat melalui benda ciptaan yang berfungsi sebagai lambang. Lambang dan simbol juga dianggap dapat membuat mereka lebih mampu melihat kedalaman kebaikan, kasih, belas kasih, dan hal-hal batiniah lainnya.

Simbol-simbol pada Sakramen Pengurapan Orang Sakit

  • Minyak Urapan

Minyak urapan merupakan simbol pada sakramen pengurapan orang sakit yang paling penting. Karena itulah sakramen ini juga biasa disebut sakramen minyak suci. Sejak dulu, minyak memang sudah dikenal sebagai alat yang dapat menyembuhkan dan menyucikan. Dalam Alkitab sendiri, minyak urapan sudah disebutkan dua puluh kali, dan sebagian besar berfungsi untuk menguduskan sesuatu, seperti mezbah, bejana, dan peralatan-peralatan dalam kemah suci lainnya. Selain itu, minyak urapan juga dapat digunakan untuk acara-acara tertentu, seperti pelantikan imam, raja, dan nabi. Oleh karena itu, jaman dahulu orang biasa dilarang untuk menggunakan minyak urapan, apalagi membuatnya demi kepentingan pribadi.

Dalam kitab Keluaran 30:23-24, bahan-bahan untuk membuat minyak urapan terdiri dari mur, kayu manis, dan bahan-bahan alami lainnya. Sedangkan untuk perjanjian baru, minyak urapan hanya disebutkan empat kali dan masing-masing memiliki tujuan yang berbeda-beda.

Salah satu dasar Alkitab penggunaan minyak dalam sakramen pengurapan orang sakit yaitu terdapat pada Yakobus 5:14 yang mengatakan, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.”

  • Tanda Salib

Simbol yang paling identik dengan umat Kristiani adalah tanda salib. Pada pelaksanaan sakramen pengurapan orang sakit, Imam membuat tanda salib pada dahi dan tangan si sakit. Umat Katolik memang sering sekali menggunakan salib dalam kehidupan sehari-harinya, contohnya membuat tanda salib di tubuh saat sebelum dan sesudah berdoa. Beberapa ajaran mengatakan bahwa dengan membuat tanda salib secara tidak sadar mereka disucikan oleh Allah. Selain itu, membuat tanda salib juga dapat melindungi umat dari ajaran duniawi yang menyesatkan. Namun secara umum, penggunaan tanda salib memiliki makna yaitu untuk mengingatkan kita akan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Penggunaan tanda salib Katolik juga memiliki sejarah sendiri. Pada abad kedua, banyak sekali umat Kristiani yang dianiaya dan dibunuh oleh orang Romawi. Sampai suatu ketika mereka bertemu dengan seorang Jenderal Romawi yang memiliki belas kasih pada orang Kristen yang disiksa. Namanya adalah Konstantinus, nama yang sekarang dijadikan nama kota di Turki.


Pada suatu malam, Sang Jenderal bermimpi, apabila ia ingin menang melawan Maxentinu di kota Roma, maka dia harus menandai seluruh pedangnya dengan tanda salib. Dia pun melakukannya, alhasil menanglah Sang Jenderal dan umat Kristiani terbebas dari penyiksaan. Itulah awal mulanya umat Kristiani mulai menggunakan tanda salib.

  • Dahi

Saat melakukan pengurapan, sang Imam mengoleskan minyak suci pada dahi si sakit. Alasan mengapa dahi dijadikan simbol dalam sakramen ini dikarenakan dahi merupakan salah satu bagian tubuh manusia yang paling mudah dilihat. Umat Katolik percaya bahwa mereka perlu memperlihatkan citra karakter Kristus melalui perbuatan. Dengan mengurapi dahi si sakit, menandakan kebutuhan akan Kristus serta bersedia mengikut-Nya, dan secara tidak langsung akan menggambarkan citra Kristus melalui dirinya.

  • Tangan

Selain dahi, Imam juga mengoleskan minyak suci pada tangan si sakit. Tangan dianggap sebagai anggota tubuh yang paling sering digunakan saat melakukan aktivitas. Dengan mengurapi tangan, si sakit diingatkan supaya senantiasa melakukan segala aktivitasnya untuk kepentingan dan kehendak-Nya.

  • Menumpangkan Tangan

Dalam Markus 16:18 berbunyi, “… mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Ayat ini merupakan salah satu dasar mengapa Imam menumpangkan tangan saat mengurapi si sakit.

Selain dalam sakramen pengurapan orang sakit, banyak sekali acara/ritual yang juga melibatkan penumpangan tangan. Menumpangkan tangan menjadi salah satu simbol dalam sakramen pengurapan orang sakit karena memiliki makna bahwa kuasa Tuhan memasuki orang yang sakit melalui mediasi dari Imam. Selain itu, menumpangkan tangan pada si sakit juga dirasa dapat memberikan kenyamanan, menunjukkan kepedulian dan perhatian.