Sponsors Link

5 Peninggalan Reformasi Gereja yang Masih Ada

Sponsors Link

Saat berbicara mengenai sejarah reformasi gereja, mungkin kita akan langsung teringat oleh sang pelopor, yaitu Martin Luther. Martin Luther adalah seorang biarawan Jerman sekaligus seorang teolog. Dia menggerakkan reformasi pada gereja Katolik saat itu karena menurutnya banyak sekali otoritas gereja yang mulai menyimpang dan tidak sesuai dengan ajaran yang sesungguhnya. Misalnya mengenai dominasi paus, penyogokkan oleh pemuka agama, penyimpangan terhadap ritus-ritus sakramen, perilaku paus yang amoral menyangkut hubungannya dengan wanita, dan perbuatan lain yang sudah sangat melenceng dari Alkitab.

ads

Awal mula gerakan Martin Luther di Jerman dikarenakan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah pada abad enam belas Jerman merupakan negara agraris yang masih terbelakang dimana katolisisme yang konservatif memiliki pengaruh kuat di negara ini. Selain itu, masyarakatnya juga sangat meyakini penyembahan terhadap tokoh ataupun benda keramat sehingga di negara Jerman surat pengakuan banyak dijual. Keadaan ini memicu timbulnya reformasi yang dilakukan Martin Luther. Dia merasa bahwa tindakan gereja sudah tidak lurus lagi, karena ia percaya bahwa penjualan surat pengampuan dosa tidak sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus. Gereja tidak memiliki hak untuk memberikan pengampunan dosa dalam kristen.

Pada tahun 1517, Martin Luther memulai kontroversi dengan menempelkan 95 tesis di depan gereja Wittenberg. Isi dari tesis tersebut adalah penolakan terhadap penjualan surat pengakuan dosa. Menurutnya itu adalah perbuatan yang korup dan tidak benar. Luther sangat kesal terhadap otoritas gereja dan marah karena Alkitab dinodai oleh orang-orang yang hanya mementingkan kekuasaan dan kekayaan. Dan sebenarnya, penjualan surat pengampunan dosa itu dicetuskan oleh Paus Leo X, tujuannya yaitu untuk  mengumpulkan dana demi pembangunan gereja termegah pada saat itu.

Pada tahu 1520, Luther meminta Kaisar Roma untuk mereformasi gereja dan berhenti tunduk pada kekuasaan Paus. Tindakan Luther ini membuat gereja marah dan Paus Leo X sangat menentang reformasi yang diinginkan Luther. Lalu Charles X memanggil Luther untuk mengakui kesalahannya, namun Luther tetap merasa bahwa dirinya benar. Akibatnya, terjadilah konfrontasi Kaisar. Dan hal tersebut membuat Luther terpaksa harus bersembunyi di Kastil Wartburg. Di sana dia menerjemahkan Injil Perjanjian Baru ke bahasa Jerman. Seiring dengan berkembangnya mesin cetak, ajaran Luther pun mulai berkembang. Banyak orang yang mendukung reformasi Luther dan banyak yang menganggapnya sebagai pahlawan. Sekaligus, reformasi Luther lah yang melahirkan agama baru yaitu Protestan.

Nah sekarang, kita akan mengetahui apa saja peninggalan reformasi gereja, sebagai berikut:

  • Agama Protestan

Bentuk nyata peninggalan dari reformasi gereja yaitu adanya agama Protestan. Walaupun Luther keluar dari hirarki gereja Katolik dan membentuk jemaat baru yang saat ini disebut Protestan, bukan berarti bahwa ajaran Protestan benar-benar terpisah dari ajaran Katolik. Malahan, sebenarnya dengan dibentuknya Protestan saat itu adalah untuk mengembalikan ajaran dan kebijakan yang menyimpang ke ajaran yang benar.

  • Pandangan Terhadap Sakramen dalam Agama Protestan

Martin Luther percaya bahwa sakramen hanya merupakan alat yang dapat membantu keimanan, tetapi sama sekali bukan alat untuk menerima rahmat. Tradisi gereja Katolik yang menganggap bahwa sakramen dapat membawa keselamatan mengakibatkan adanya ritual-ritual yang cenderung pada penyembahan berhala. Maka dari itu, dalam pengajarannya terhadap jemaat yang dibentuknya, Martin memperbaharui pandangan jemaat bahwa rahmat hanya dapat diperoleh dari Allah Tritunggal.

  • Doktrin Semua Orang Boleh Menafsirkan Alkitab

Martin berpendapat bahwa menafsirkan Alkitab tidak hanya dapat dilakukan oleh pemuka agama saja, melainkan semua orang boleh melakukannya. Menurutnya, Alkitab harus terbuka untuk siapa saja supaya tidak ada monopoli kebenaran oleh pemuka agama. Oleh sebab itu, dalam Protestan saat ini semua orang bebas menafsirkan Alkitab, sedangkan dalam gereja Katolik Alkitab hanya boleh ditafsirkan oleh ahli-ahli agama.

  • Pandangan Bahwa Keselamatan Hanya Bergantung Pada Iman

Sebelum menjadi biarawan, Luther adalah seorang mahasiswa yang mengambil jurusan hukum. Namun, karena dorongan untuk menemukan jati diri, Luther meninggalkan studinya dan menjadi biara di Augustinian. Di sana dia mencari tahu tentang konsep keselamatan.

Sponsors Link

Setelah banyak mengkaji, dia percaya bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik atau melakukan praktik-praktik keagamaan seperti ritual sakramen dan sebagainya, melainkan oleh karena iman. Dan pemikiran Luther inilah yang sampai sekarang diimani oleh umat Protestan.

  • Pandangan Bahwa Iman Diberikan Oleh Tuhan

Saat dalam perjalanannya untuk mencari kebenaran, Luther mendapat pengertian bahwa iman tidak didapat karena perantara manusia, ritual-ritual, surat pengakuan dosa, atau apapun yang bersifat fana, melainkan langsung dari Tuhan. Itulah mengapa umat Protestan saat ini lebih mengedepankan hubungan yang intim dengan Tuhan daripada menitikberatkan kesucian seseorang melalui ritual-ritual keagamaan.

  • Melahirkan aliran-aliran baru, yaitu Lutherisme, Calvinisme, Anglicanisme, Quakerisme, Katholikisme. Meskipun aliran-aliran tersebut memiliki prinsip yang sama, tetapi tetap saja menimbulkan keretakan dalam agama Kristen. Sehingga mengakibatkan Eropa terbelah dalam hal keagamaan. Jerman Utara, Swedia, dan Norwegia menganut Lutherisme. Skotlandia, Belanda, Switzerland, dan Prancis menganut Calvinisme. Dan untuk negara lainnya di Eropa menganut Katolisisme atau Ortodoks.
  • Dengan adanya reformasi Luther, di Eropa mulai tumbuh demokratisasi politik dan kesadaran rakyat mengenai hak-hak politik dan kebebasan berpendapat, sehingga rakyat berani menolak kekuasaan pemerintah yang otoriter dan melakukan kontrol terhadap pemerintah.

Demikian uraian singkat mengenai peninggalan reformasi gereja. Peninggalan reformasi gereja di sini mungkin lebih bersifat ke arah peninggalan doktrin, tradisi, dan ajaran, bukan peninggalan dalam bentuk fisik. Nah, setelah membaca artikel ini semoga bisa memberikan pengetahuan dan manfaat kepada pembaca. Terima kasih.

Sponsors Link
,
Oleh :
Kategori : Gereja