Sponsors Link

4 Keteladanan Yeremia dalam Pelayanan yang Wajib Orang Kristen Tirukan

Sponsors Link

Ada dua kitab perjanjian yang kita kenal dalam Alkitab, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Memang ada beberapa persamaan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Namun, ada juga perbedaannya. Pada Perjanjian Baru, kita lebih mengerti tentang janji keselamatan dalam Alkitab. Pada Perjanjian Lama, lebih banyak diceritakan kisah tokoh-tokoh Alkitab. Tidak hanya sekedar menceritakan sebuah kisah, Perjanjian Lama juga memberikan banyak pesan moral melalui kisah tersebut. Misalnya kita dapat belajar dari keteladanan Abraham dalam Alkitab. Salah satu tokoh Alkitab yang memiliki kisah bermoral adalah Yeremia.

ads

Kita mengenal Yeremia sebagai seorang nabi untuk bangsa Israel. Ia dipanggil menjadi nabi oleh Allah ketika dirinya masih sangat muda. Ia memiliki tugas khusus untuk mengingatkan bangsa Israel dari segala perbuatan jahat. Yeremia juga bertugas untuk mengingatkan bangsa Israel agar berhenti menyembah berhala dan kembali kepada Allah yang benar. Dalam perjalanan kehidupannya sebagai nabi, ada banyak keteladanan Yeremia yang dapat kita saksikan. Berikut beberapa keteladanan Yeremia.

  1. Taat kepada Allah

Yeremia 20:7 Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku.

Yeremia adalah seorang nabi yang sangat dikenal dalam ketaatannya pada Tuhan. Jika kita membaca kitab Yeremia dari awal, kita mengetahui bahwa Yeremia dipanggil menjadi nabi sejak masa mudanya. Ia belum pandai berbicara sebagai seorang yang berpengaruh. Namun, ia tidak terus mengelak karena hal itu. Ia taat kepada perintah Allah yang memintanya menjadi nabi. Dalam keberjalanannya sebagai nabi pun, tidak ada satu hal pun yang tak berkenan di mata Tuhan dilakukan oleh Yeremia.

Hal ini pun perlu kita lakukan. Seringkali kita merasa sangat mengenal diri kita sehingga menolak panggilan dari Allah. Kita merasa tidak mampu dengan apa yang Allah minta atau justru kita merasa memiliki bakat lain. Padahal, seharusnya kita bersyukur jika Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk mengerti panggilan dari-Nya. Tidak semua orang memiliki anugerah itu. Ketika kita sudah mengerti panggilan Allah, seharusnya kita bersedia melakukannya. Kita percaya bahwa Allah akan menyertai kita seperti bagaimana Allah menyertai Yeremia. Kita percaya bahwa Allah yang menyertai Yeremia adalah Allah yang sama seperti Allah yang menyertai kita.

  1. Tidak takut menyatakan kebenaran

Yeremia 26:15 Hanya ketahuilah sungguh-sungfguh, bahwa jika kamu membunuh aku, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab TUHAN benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu.”

Dalam kehidupan sebagai nabi, bangsa Israel adalah bangsa yang bebal. Mereka terus merencanakan kejahatan dan menyembah berhala. Yeremia tidak henti-hentinya mengingatkan bangsa Israel untuk kembali kepada Tuhan. Ada banyak sekali peringatan yang Yeremia ungkapkan dan bisa kita baca pada kitab Yeremia. Hal ini membuat hati bangsa Israel panas sehingga mereka ingin membunuh Yeremia. Ancaman kematian ini tidak membuat Yeremia gentar. Ia tetap menyerukan berita kebenaran kepada bangsa Israel. Hal ini menunjukkan kesetiaan dan ketaatan Yeremia pada Allah.

Matius 5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Keteladanan Yeremia ini perlu kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, terutama di tengah panasnya isu agama di Indonesia. Kita tidak boleh gentar dalam mengungkapkan kebenaran. Ingatlah bahwa hidup yang kita miliki bukanlah milik kita, tetapi milik Allah. Oleh karena itu, seharusnya kita hidup sesuai kehendak Allah. Bahkan kitab injil Matius pun mengingatkan bahwa jika kita mengalami penganiayaan karena penderitaan, kita tetap akan berbahagia. Kita akan menjadi orang yang memiliki Kerajaan Sorga. Ingatlah bahwa kehidupan kita di dunia ini hanyalah gladi bersih untuk kehidupan kekal kita di Sorga.

Saat ini memang banyak orang terlalu takut menjadi minoritas lalu disingkirkan. Banyak orang yang kemudian seringkali menutup-nutupi kebenaran karena takut mendapatkan penganiayaan. Oleh karena itu, kita perlu terus membaca ayat Alkitab tentang kejujuran.

Sponsors Link

  1. Melayani dengan kasih

Yeremia 8:21 Karena luka puteri bangsaku hatiku luka; aku berkabung, kedahsyatan telah menyergap aku.

Yeremia dipanggil untuk melayani bangsa Israel. Yeremia memang taat kepada perintah Allah. Semua yang Allah perintahkan untuk ia katakan, Yeremia teruskan kepada bangsa Israel. Namun, Yeremia tidak hanya sekedar menjadi pembawa pesan. Ia benar-benar melayani bangsa Israel dengan penuh kasih. Ia tak henti memikirkan bangsa Israel, berpikir untuk kebaikan bangsa Israel. Ia bahkan berduka atas keburukan yang dialami oleh bangsa Israel.

Keteladanan Yeremia ini menjadi contoh yang sangat baik untuk kita sebagai seorang warga negara. Kita ditempatkan oleh Allah dalam suatu bangsa dan seharusnya kita memiliki pengaruh untuk bangsa ini. Kita tidak bisa hanya sekedar menumpang nama kebangsaan. Kita harus berjuang, berdoa untuk bangsa kita.

Tidak hanya dalam kehidupan berkebangsaan, kasih pun harus kita terapkan dimanapun kita ditempatkan untuk melayani. Kasih seharusnya menjadi dasar pelayanan kita. Tanpa kasih, kita tidak akan sanggup untuk melayani dengan setia. Kasih yang akan menguatkan kita untuk terus melakukan pelayanan kita sesuai dengan yang dikatakan ayat Alkitab tentang pelayanan.

Sponsors Link

  1. Tidak pantang menyerah

Tidaklah mudah bagi Yeremia untuk menjalani tugasnya sebagai nabi. Berulang-ulang kali ia mengingatkan bangsa Israel, tetapi ia tetap ditolak. Bangsa Israel berkeras hati, begitu bebal, tidak mau mendengarkan Yeremia sama sekali. Bahkan mereka berencana untuk menghukum mati Yeremia. Namun, oleh karena kasih yang ia miliki, Yeremia tidak menyerah. Segala rintangan yang ada, ia tetap mengerjakan tugasnya dengan baik. Bukan hasil akhirnya yang ia pikirkan. Yeremia hanya berpikir untuk melakukan yang terbaik dalam pelayanannya.

Keteladanan Yeremia ini sangat baik untuk kita tiru ketika kita berada dalam masa kesulitan. Masa-masa kesulitan, penolakan bukanlah sesuatu yang dapat kita perkirakan. Masa-masa itu juga pasti akan datang. Ingatlah bahwa kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Oleh karena itu, hasil akhir tidak menjadi nomor satu dalam pelayanan kita. Hal yang menjadi nomor satu dari pelayanan kita adalah sikap hati terbaik yang kita berikan kepada Allah. Hasil akhir seharusnya kita serahkan kepada kehendak Allah sesuai dengan yang dikatakan ayat Alkitab tentang berserah.

Itulah beberapa keteladanan Yeremia. Mungkin ada dari kita yang masih belum mengerti apa panggilan Tuhan dalam hidup kita. Jika memang belum, teruslah setia untuk mencari tahu. Jangan pernah menyerah untuk mengenal kehendak Tuhan dalam kehidupan kita. Selain itu, kita pun harus terus mempersiapkan diri untuk menerima panggilan Tuhan. Jangan sampai ketika Ia sudah menyampaikan kerinduan-Nya, kita malah ragu-ragu.

Jika kita sudah mengetahui panggilan Tuhan, pertama-tama, bersyukurlah untuk itu. Ingat bahwa tidak semua orang diberikan anugerah untuk mengetahuinya. Jangan ragu untuk menerima panggilan Tuhan tersebut. Ingatlah bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita sama seperti bagaimana Ia menyertai Yeremia. Untuk setiap panggilan kita, lakukanlah itu sebagai pelayanan seperti bagaimana Yeremia melakukan panggilannya. Biarkan panggilan itu menjadi bentuk penyembahan yang benar menurut Alkitab dari kita kepada Tuhan. Segala kemuliaan bagi nama Tuhan. Tuhan memberkati.

Sponsors Link
, , , ,
Oleh :
Kategori : Renungan Harian